KOTAMOBAGU — Peristiwa maut yang merenggut 8 nyawa terjadi di tengah gelaran Drag Race dan Drag Bike di Jalan A.P. Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara. Insiden tersebut juga meninggalkan 8 orang lainnya dalam kondisi luka berat. Peristiwa ini menjadi duka mendalam bagi warga yang baru saja menikmati perbaikan jalan tersebut.
Jalan sepanjang sekitar 1,2 kilometer itu sebelumnya dikenal rusak parah selama belasan tahun. Aspal terkelupas dan badan jalan berlubang membuat kendaraan, terutama bentor, enggan melintas. Baru pada akhir 2025, ruas jalan ini diaspal setelah status asetnya dipastikan milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut).
Kerumunan Penonton Padati Area Pengereman
Kemeriahan berubah menjadi kepanikan saat perlombaan berlangsung pada 6-9 Agustus 2026. Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati hampir sepanjang lintasan untuk menyaksikan aksi para pembalap dari berbagai daerah. Antusiasme ini jauh melebihi perkiraan penyelenggara.
Salah seorang warga Upai, Abo', menyebutkan animo masyarakat di Kotamobagu Utara memang sangat tinggi terhadap hiburan semacam ini. "Di Kotamobagu Utara ini sepakbola antar-RT saja penontonnya membludak. Apalagi event besar yang belum pernah digelar di sini seperti Drag Race ini," ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Padahal, di area sekitar 100 meter yang seharusnya menjadi ruang pengereman, masih banyak penonton yang berdiri tanpa pembatas yang memadai. Jarak antara lintasan dan kerumunan menjadi sangat dekat, menciptakan situasi yang berbahaya sejak awal perlombaan.
Duka Menyelimuti Jalan yang Lama Dinanti
Bagi warga Upai, Pontodon, dan Bilalang, Jalan A.P. Mokoginta memiliki sejarah panjang. Selama bertahun-tahun, mereka harus berjuang melintasi jalan berlubang yang menyulitkan aktivitas sehari-hari. Persoalan status aset antara Pemkot Kotamobagu dan Pemprov Sulut sempat membuat perbaikan jalan ini tertunda.
Ketika akhirnya mulus, jalan ini menjadi simbol harapan baru bagi mobilitas warga. Namun kini, ruas jalan yang sama justru menjadi saksi bisu peristiwa yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Sorak-sorai penonton berganti menjadi tangis keluarga korban yang kehilangan orang terkasih.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya standar keselamatan dalam setiap penyelenggaraan event, terutama yang melibatkan kendaraan berkecepatan tinggi. Jalan yang selama belasan tahun dinanti warga untuk menjadi mulus itu kini meninggalkan catatan pahit yang akan terus diingat, bukan karena aspal barunya, tetapi karena 8 nyawa melayang di atasnya.