SULAWESI UTARA — Kinerja dekarbonisasi Pertamina pada paruh pertama tahun ini jauh melampaui ekspektasi. Alih-alih hanya memenuhi target yang direncanakan, realisasi pengurangan emisi justru berlebih hingga 18 poin persentase. Angka ini menjadi sinyal bahwa program transisi energi yang dijalankan holding migas negara tersebut berjalan lebih cepat dari jadwal.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut pencapaian ini merupakan buah dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan menyeluruh di seluruh lini bisnis. Menurutnya, standar global menjadi acuan utama Perseroan dalam setiap langkah operasional.
"Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060," ujar Baron dalam keterangan resminya. Bioetanol dan Biofuel Jadi Motor Penggerak
Keberhasilan menekan emisi tak lepas dari kinerja bisnis rendah karbon yang mencatatkan realisasi 101 persen sepanjang Januari–Juni 2026. Artinya, pendapatan dari lini usaha ini juga ikut melampaui angka yang dibidik dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.
Baron merinci, ada tiga program utama yang mendorong lonjakan kinerja tersebut. Pertama, pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar. Kedua, pemanfaatan biofuel yang semakin masif. Ketiga, program efisiensi energi di berbagai fasilitas operasional Pertamina.
"Pencapaian ini didukung oleh beberapa program utama seperti bioethanol, biofuel, dan efisiensi energi yang mampu melampaui target yang telah ditetapkan," jelas Baron.
Ia menambahkan, pertumbuhan di sektor ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu berarti mengorbankan performa bisnis. Justru sebaliknya, inisiatif hijau mampu berjalan beriringan dengan target komersial perusahaan. Menuju Target NZE 2060
Langkah agresif Pertamina dalam menekan emisi menjadi bagian penting dari peta jalan pemerintah menuju NZE. Sebagai BUMN energi terbesar di tanah air, kontribusi Perseroan dalam mengurangi jejak karbon akan sangat menentukan keberhasilan agenda nasional tersebut.
Konsistensi dalam mengembangkan energi baru terbarukan juga dipandang sebagai upaya menjaga ketahanan energi jangka panjang. Di tengah tren global yang semakin mengarah pada energi bersih, percepatan dekarbonisasi menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.
Dengan realisasi yang sudah menembus 118 persen di semester pertama, peluang Pertamina untuk kembali melampaui target akhir tahun terbuka lebar. Perusahaan pun diharapkan mampu mempertahankan momentum ini sepanjang sisa tahun berjalan.