BOLMONG — Nama Ali dan Lukas kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Tanoyan Selatan. Keduanya disebut-sebut sebagai dalang operasional PETI yang selama ini berjalan terbuka, namun luput dari jerat hukum. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan warga mengenai independensi aparat dalam menindak pelanggaran tambang di wilayah tersebut.
Seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya meluapkan kekesalannya. Ia menyoroti perlakuan berbeda yang diterima penambang tradisional dibandingkan pemodal besar.
“Semua orang di sini tahu siapa yang punya alat berat dan siapa pemodalnya. Tapi kenapa aparat diam saja? Apakah karena namanya sudah terlalu besar sehingga polisi jadi ragu?” keluhnya.
Publik menilai Ali dan Lukas terkesan kebal hukum. Aktivitas pengerukan dan pengolahan emas di lokasi disebut berlangsung masif, bahkan terkesan tanpa rasa khawatir akan adanya razia dari pihak berwenang.
Situasi ini berbanding terbalik dengan nasib penambang skala kecil. Mereka kerap menjadi sasaran operasi dan penyitaan peralatan, sementara situs-situs besar yang diduga dikelola pemodal kuat justru terus beroperasi. Ketimpangan ini memantik kecemburuan dan kecurigaan di tengah masyarakat.
Tekanan publik untuk menguji integritas APH pun kian menguat. Warga mendesak Kapolres Bolaang Mongondow dan instansi terkait untuk segera memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan keterlibatan Ali dan Lukas. Sikap diam kepolisian justru dinilai semakin memperbesar spekulasi yang beredar.
“Kami tidak minta pilih kasih, kami cuma minta keadilan. Jika memang melanggar hukum, proseslah sesuai aturan. Jangan biarkan rakyat kecil yang kena, sementara ‘cukong’ besar dibiarkan bebas,” tegas warga tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian yang menanggapi spesifik nama-nama yang disebutkan masyarakat. Publik kini menunggu langkah nyata APH untuk membuktikan bahwa penegakan hukum berjalan tanpa pandang bulu.
Pertanyaan besarnya, apakah aparat akan berani menindak tegas siapa pun yang terbukti merusak lingkungan, termasuk pemodal besar di balik operasional PETI di Tanoyan Selatan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi ujian kredibilitas institusi penegak hukum di mata warga Bolaang Mongondow.