SULAWESI UTARA — Kabar kurang menyenangkan datang dari Qualcomm. CEO Cristiano Amon dilaporkan akan menaikkan harga chip Snapdragon per 1 September 2025. Keputusan ini diambil demi memperluas margin perusahaan di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat.
Kenaikan harga chip ini menjadi bagian dari masalah yang lebih besar di sektor teknologi. Sebelumnya, harga memori yang melonjak dan kelangkaan pasokan komponen sudah lebih dulu mendorong kenaikan harga berbagai produk elektronik. Mulai dari ponsel pintar, tablet, kacamata pintar, konsol game, laptop, hingga perangkat komputasi ringkas semuanya terkena imbasnya.
Menurut laporan yang beredar, Cristiano Amon secara eksplisit menyebutkan target ekspansi margin sebagai alasan utama. Dengan menaikkan harga jual chip ke produsen perangkat, Qualcomm berharap bisa mempertahankan profitabilitas di tengah lingkungan biaya yang tidak bersahabat.
Kenaikan biaya produksi chip itu sendiri bukan rahasia lagi. Proses fabrikasi yang semakin kompleks, ditambah kenaikan harga bahan baku silikon dan logam mulia, membuat ongkos produksi tiap unit prosesor terus merangkak naik.
Konsekuensi paling langsung dari kenaikan harga chip ini adalah potensi kenaikan harga jual ponsel Android. Produsen ponsel seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, Samsung (khususnya lini Galaxy A dan M), serta merek lain yang mengandalkan chip Snapdragon harus menyerap biaya tambahan ini.
Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, produsen memilih menaikkan harga jual produk mereka. Kedua, produsen menekan biaya di komponen lain—seperti kamera, layar, atau material bodi—agar harga jual tetap kompetitif. Opsi kedua biasanya berujung pada penurunan kualitas secara keseluruhan.
Untuk konsumen Indonesia, dampaknya bisa terasa dalam beberapa bulan setelah kebijakan ini berlaku. Mengingat rantai pasok dan distribusi ponsel butuh waktu 1-2 bulan dari pabrik ke pasar domestik.
Kebijakan kenaikan harga ini rencananya berlaku mulai 1 September 2025. Namun, dampaknya ke harga ponsel di toko-toko Indonesia kemungkinan baru terlihat pada kuartal keempat 2025 atau awal 2026. Itu pun tergantung stok chip yang sudah dibeli produsen sebelumnya.
Produsen yang masih memiliki persediaan chip dalam jumlah besar mungkin bisa menahan harga lebih lama. Sebaliknya, merek yang harus membeli chip baru setelah September bakal langsung merasakan tekanan biaya.
Bagi Anda yang berencana membeli ponsel Android anyar, waktu terbaik mungkin adalah sebelum akhir tahun 2025. Setelah itu, bersiaplah dengan harga yang lebih tinggi—atau spesifikasi yang lebih rendah di kelas harga yang sama.