MINAHASA UTARA — Nelayan di pesisir Kema kini tak lagi hanya mengandalkan insting atau kebiasaan turun-temurun saat melaut. BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung membekali mereka dengan pengetahuan teknis membaca prakiraan cuaca resmi lewat Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN).
Dalam pelatihan ini, para nelayan diajarkan cara mengakses dan membaca informasi arah angin serta tinggi gelombang. Mereka juga memahami peringatan dini cuaca ekstrem di perairan dan menentukan lokasi penangkapan ikan atau fishing ground yang optimal dan aman.
Pengetahuan ini diharapkan tak hanya menjadi tameng keselamatan, tetapi juga membuat operasional pencarian ikan lebih efisien. Dampak akhirnya adalah peningkatan hasil tangkapan dan kesejahteraan nelayan di wilayah Kema.
Anggota Komisi V DPR RI Yasti Soepredjo Mokoagow hadir dan membuka langsung kegiatan tersebut. Ia memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif BMKG Maritim Bitung.
"Program SLCN adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi warganya," kata Yasti dalam sambutannya.
Komisi V DPR RI, yang bermitra langsung dengan BMKG, berkomitmen mendukung program literasi yang menyentuh akar rumput. Dukungan ini diharapkan memperluas jangkauan edukasi serupa ke wilayah pesisir lain di Sulawesi Utara.
Pentingnya literasi iklim bagi nelayan didorong oleh tingginya risiko aktivitas di lautan akibat anomali cuaca. SLCN hadir untuk mengedukasi nelayan agar mampu membaca, memahami, dan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca yang dirilis resmi oleh BMKG.
Melalui kegiatan di Kema, semboyan keselamatan maritim terus digaungkan: nelayan berangkat dengan selamat, mencari ikan dengan aman, dan pulang membawa kesejahteraan bagi keluarga.