Pemkot Manado Perkuat Intervensi Stunting dari 1000 Hari Pertama Kehidupan hingga Remaja, Targetkan Generasi Unggul

Penulis: Sutomo  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 13:28:31 WIB
Pemkot Manado memperkuat intervensi stunting mulai dari masa kehamilan hingga remaja untuk generasi unggul.

MANADO — Strategi penanganan stunting di Manado tidak lagi hanya berfokus pada balita. Pemkot Manado mengarahkan intervensi pada siklus hidup manusia, dimulai dari masa kehamilan, bayi, anak-anak, hingga remaja yang kelak menjadi orang tua.

Intervensi Dimulai dari Kandungan

Program ini menekankan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode emas sejak janin hingga anak berusia dua tahun menjadi sasaran utama untuk mencegah gagal tumbuh kembang.

Pemkot melalui Dinas Kesehatan menggencarkan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil risiko tinggi. Posyandu di 11 kecamatan juga diperkuat untuk memantau berat dan tinggi badan balita secara rutin.

Remaja Juga Jadi Sasaran Strategis

Yang membedakan program ini adalah jangkauannya hingga usia remaja. Pemkot menilai bahwa calon pengantin dan remaja putri rentan mengalami anemia, faktor risiko stunting pada anak yang akan dilahirkan.

Pemberian tablet tambah darah di sekolah-sekolah menengah pertama dan atas di Manado diperluas. Edukasi gizi seimbang juga dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi siswa.

Kerja Sama Lintas Sektor

Kepala Dinas Kesehatan Manado menyebut bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Pihaknya menggandeng Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

“Kami pastikan data stunting di setiap kelurahan terintegrasi. Dari situ kami lihat mana yang butuh intervensi gizi, mana yang butuh perbaikan sanitasi, dan mana yang butuh pendampingan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah forum koordinasi pekan lalu.

Target Angka Prevalensi Turun Drastis

Pemkot Manado menargetkan angka prevalensi stunting di angka 14 persen pada tahun 2026. Saat ini, prevalensi stunting di ibu kota Sulawesi Utara tersebut masih berada di kisaran 20 persen.

Untuk mencapai target itu, Dinas Kesehatan juga mengaktifkan kembali peran kader pembangunan manusia (KPM) di setiap desa dan kelurahan. Mereka bertugas menjemput bola warga yang tidak rutin ke posyandu.

Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan angka stunting, tetapi juga memutus rantai kemiskinan antargenerasi di Manado.

Reporter: Sutomo
Sumber: manadopost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top