SULAWESI UTARA — Kompetisi utama Venice Film Festival tahun ini kedatangan satu judul yang menarik perhatian kritikus: Back to Buenos Aires. Film ini disutradarai Marco Bechis, sineas kelahiran Chile yang besar di Argentina dan Italia.
Bechis bukan orang baru di tema ini. Ia pernah menggarap Garage Olimpo (1999) yang tayang di Cannes Un Certain Regard dan mengangkat kisah pusat penahanan bawah tanah di Buenos Aires. Kini ia kembali ke wilayah yang sama dengan pendekatan berbeda.
Sinopsis: Pulang ke Tempat yang Paling Ingin Dilupakan
Cerita dibuka di Torino, 2008. Mariano (Adriano Giannini), pria berusia 50-an yang bekerja sebagai paramedik, hidup sendiri dan nyaris tak bicara. Mesin penjawab teleponnya terus menerima pesan soal panggilan pengadilan di Argentina.
Mariano diminta terbang ke Buenos Aires untuk bersaksi melawan anggota junta militer yang baru menghadapi proses hukum setelah tiga dekade. Awalnya menolak, ia akhirnya naik pesawat dan kembali ke tempat ia pernah disiksa.
Sisa film berlangsung di dalam gedung pengadilan tua Buenos Aires. Mariano dan sejumlah mantan tahanan lain menunggu sidang dimulai. Kilas balik membawa penonton ke 1976, saat Mariano muda (Eduardo Hoy) berubah dari pejuang kiri bersenjata menjadi tahanan di Garage Olimpo.
Mengapa Para Penyintas Lain Memandang Mariano dengan Sinis
Mariano bertahan hidup selama dua tahun sebagai medic tahanan sekaligus pion bagi para penjaga. Posisi itu membuatnya bertahan, tapi juga membuat mantan rekan-rekannya mencurigainya.
Salah satu adegan paling kuat dalam film ini memperlihatkan Mariano kembali ke lokasi penahanannya bersama Evelyn (Verónica Gerez), putri seorang mantan kamerad. Mereka menyusuri garasi kosong raksasa yang lantainya masih menandai bekas sel-sel kecil.
Sepanjang adegan itu, tubuh Mariano tampak lemas oleh rasa bersalah. Giannini memainkan peran ini dengan keringat dan penderitaan diam hampir sepanjang film.
Kisah Nyata di Balik Layar
Bechis termasuk sedikit desaparecidos yang selamat dari penculikan dan penahanan setelah kudeta militer 1976. Pengalaman itu membuat detail psikologis dan historis film ini terasa otentik.
Film ini juga menyentuh praktik "death flights" — tahanan yang dibius, dinaikkan ke pesawat, ditelanjangi, lalu dibuang ke laut dari ketinggian. Referensi semacam ini yang membuat Back to Buenos Aires terasa berat.
Beberapa kritikus menilai narasinya bergerak lambat tanpa banyak ketegangan, dan sejumlah plot contrivance terasa dipaksakan. Alur soal seorang dokter jahat (Adrian Fondari) disebut kurang meyakinkan dibanding garis cerita utama.
Pemain dan Kru Produksi
Selain Giannini dan Celentano, film ini juga dibintangi Verónica Gerez, Olivia Nuss, dan Adrian Fondari. Skenario ditulis Bechis bersama Vijaya Bechis Boll.
Rumah produksinya meliputi Fandango, 39Films, Karta Film, dan Rai Cinema. Domenico Procacci, Laura Paolucci, Alfredo Federico, Simona Banchi, Bechis, dan Daniele Incalcaterra duduk sebagai produser.
Apa Selanjutnya untuk Film Ini
Setelah pemutaran perdana di Venice, Back to Buenos Aires dijadwalkan masuk festival dan bioskop arthouse di Eropa serta Amerika Latin. Distribusi di Asia, termasuk Indonesia, belum diumumkan.
Bechis lewat film ini tidak menawarkan penyembuhan total bagi Mariano. Traumanya tetap ada. Yang berubah adalah caranya belajar hidup berdampingan dengan luka lama itu.