SULAWESI UTARA — Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027, naik dari capaian 5,45% di Semester I-2026, dengan mengandalkan transisi energi dan pembangunan digital sebagai dua mesin utama. Kemenko Perekonomian menilai investasi nasional harus tumbuh 8-9% untuk mencapai target tersebut. Kebutuhan modal diperkirakan mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.
Paragraf pembuka: Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyebut strategi ini sebagai twin engine yang harus berjalan bersamaan. "Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Haryo. Tanpa keduanya, pertumbuhan dinilai tidak akan kompetitif secara global.
Untuk mencapai pertumbuhan 6%, pemerintah membutuhkan investasi nasional yang tumbuh 8-9%. Artinya, modal yang harus digelontorkan mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.
Logikanya sederhana. Investasi butuh listrik hijau yang andal, sementara industri modern butuh infrastruktur digital yang cepat. Dua kebutuhan itu tidak bisa ditawar jika Indonesia ingin bersaing di pasar global.
Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kapasitas pembangkit harus mencapai 100 GW peak berbasis energi baru terbarukan. Target ini untuk menopang kebutuhan listrik nasional yang diprediksi tembus 700-800 TWh pada 2030.
Fondasinya sudah disiapkan lewat pembangunan jaringan transmisi 47.758 kilometer-sirkuit. Jaringan ini akan mengaliri kawasan industri dan data center yang menjadi tulang punggung ekonomi digital.
Di sisi pemerataan, program Listrik Desa ditargetkan menjangkau 4.390 lokasi pada 2026. Harapannya, rasio elektrifikasi nasional bisa menembus 99%.
Mesin kedua adalah hilirisasi mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan tembaga yang dipacu dengan energi bersih. Nilai tambahnya tidak main-main. Ekosistem kendaraan listrik saja diproyeksi melipatgandakan nilai hingga 67 kali lipat.
Proyeksi itu sejalan dengan permintaan global yang diperkirakan mencapai USD 5,91 triliun pada 2045. Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama di rantai pasok global.
Skema pembiayaan hijau seperti green bonds dan JETP disiapkan untuk mendukung ambisi ini. Pemerintah juga menyiapkan SDM vokasi agar tenaga kerja lokal siap mengisi industri yang tumbuh.
Pemerintah menyebut posisi Indonesia saat ini sebagai golden moment. Bukan sekadar penonton, Indonesia ingin menjadi tuan rumah transisi energi global.
Dengan kombinasi energi hijau dan digital, target pertumbuhan 6% di 2027 bukan hanya angka. Ini soal posisi Indonesia di peta ekonomi dunia yang sedang berubah cepat.