SULAWESI UTARA — Otoritas Jasa Keuangan mencatat 29 rencana Penawaran Umum dalam pipeline dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun per akhir September 2026. Pipeline aksi korporasi tersebut diharapkan menjadi penopang utama pencapaian target penghimpunan dana pasar modal nasional sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan pipeline penawaran umum tersebut masih berpeluang bertambah seiring sejumlah emiten yang menyiapkan aksi korporasi sebelum tutup buku 2026. Nilai indikatif Rp26,47 triliun itu mencakup beragam instrumen, mulai dari penawaran umum perdana (IPO), penawaran umum terbatas (right issue), hingga penawaran umum obligasi dan sukuk.
"Saat ini pada pipeline terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun, yang diharapkan dapat menopang pencapaian target penghimpunan dana sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun," ujar Friderica dalam keterangan resmi.
Sepanjang Januari hingga akhir September 2026, dana segar yang dihimpun korporasi melalui pasar modal domestik sudah mendekati angka Rp250 triliun. Capaian itu membuat sisa tiga bulan terakhir menjadi penentu apakah target tahunan dapat terlampaui atau hanya terpenuhi tepat di garis akhir.
OJK menilai minat korporasi menghimpun pendanaan di bursa masih terjaga. Sejumlah emiten memanfaatkan momentum suku bunga dan kondisi likuiditas pasar yang dinilai mendukung untuk menerbitkan efek baru.
Ada beberapa alasan yang membuat korporasi tetap agresif mencari dana di pasar modal menjelang akhir tahun:
Pipeline yang masih terbuka memberi sinyal bahwa bursa domestik belum kehilangan daya tarik di mata korporasi. Bagi investor, derasnya penawaran umum baru berarti bertambahnya pilihan instrumen, tetapi juga menuntut kejelasan dalam menilai fundamental emiten yang akan melantai.
Bagi investor ritel, gelombang penawaran umum di kuartal keempat bisa menjadi peluang sekaligus ujian. Penawaran umum perdana kerap menawarkan harga yang menarik, namun kualitas emiten tetap menjadi faktor penentu kinerja jangka panjang.
Sementara itu, pelaku pasar modal seperti underwriter dan manajer investasi akan diuntungkan dari bertambahnya mandat penerbitan efek. Pipeline senilai Rp26,47 triliun menjadi pekerjaan yang menanti untuk dieksekusi hingga akhir tahun.
OJK belum merinci sebaran sektor dari 29 rencana penawaran umum tersebut. Regulator menyatakan akan terus memantau perkembangan pipeline agar target penghimpunan dana nasional tahun ini dapat tercapai tanpa mengabaikan aspek perlindungan investor.