KOTAMOBAGU — Franki Pandelaki menegaskan tidak akan menoleransi keterlibatan stafnya di lapangan jika ditemukan bukti pelanggaran dalam antrean BBM Solar. Peringatan itu ia sampaikan langsung di hadapan puluhan sopir angkutan pekerja yang mengeluh soal dugaan kecurangan pengisian.
Mediasi berlangsung di Pondok Depan SPBU Matali, Sabtu (3/10/2026) malam. Pemerintah Kelurahan Matali turut hadir memfasilitasi pertemuan antara manajemen SPBU dan para sopir.
Franki membantah tegas tudingan yang menyebut ada permainan di tubuh manajemen maupun karyawan SPBU. Ia mengaku sudah mengingatkan seluruh jajarannya agar tidak memprioritaskan antrean BBM secara tidak sah demi keuntungan pribadi.
"Untuk di internal SPBU, saya bantah keras terkait isu adanya permainan. Itu sudah saya ingatkan kepada mereka," ujar Franki.
Menurutnya, dinamika yang terjadi di luar area operasional SPBU berada di luar wewenangnya. Meski begitu, ia tidak akan tinggal diam jika ada bukti keterlibatan stafnya di lapangan.
Sanksi tegas disiapkan bagi oknum karyawan yang terbukti bermain. Franki menyatakan akan langsung memecat karyawan tersebut tanpa proses kompromi.
"Di luar itu saya tidak tahu karena bukan ranah saya. Namun jika terjadi dan ditemukan ada karyawan yang bermain, langsung saya pecat," tegasnya.
Langkah ini diambil guna merespons berkembangnya isu dugaan pungutan liar dan kecurangan pada tata kelola antrean BBM Solar di lokasi tersebut.
Puluhan sopir angkutan pekerja mengadu soal antrean Solar yang dinilai tidak adil. Mereka menuding ada pihak tertentu yang mendapat prioritas pengisian di luar mekanisme resmi.
Pemerintah Kelurahan Matali memfasilitasi mediasi agar persoalan tidak meluas. Hingga pertemuan berakhir, belum ada laporan resmi soal oknum yang terbukti bersalah.
Manajemen SPBU Matali memastikan pengawasan internal diperketat pasca-mediasi. Sopir angkutan pekerja berharap antrean Solar kembali tertib dan transparan.