SULAWESI UTARA — PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyerap 100.310 tenaga kerja hingga September 2026, naik dari 35.592 orang pada 2020. Dengan populasi pekerja 86.804 orang pada 2025 saja, perputaran uang di Bahodopi ditaksir Rp 499,1 miliar per bulan atau Rp 5,9 triliun per tahun.
Kawasan industri nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, itu kini menaungi tiga klaster produksi utama: stainless steel, carbon steel, dan komponen bahan baku baterai. Data HR Department PT IMIP mencatat lonjakan tenaga kerja yang konsisten selama lima tahun terakhir.
Pada 2021 jumlah pekerja di kawasan IMIP mencapai 51.542 orang, lalu naik menjadi 68.466 orang pada 2022 dan 74.350 orang pada 2023. Tahun 2024 tercatat sekitar 83.000 orang, 2025 sebanyak 86.804 orang, dan hingga September 2026 menembus 100.310 orang.
Komposisi pekerja itu terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan. Angka tersebut belum termasuk tenaga kerja tidak langsung yang tumbuh di sektor jasa dan perdagangan sekitar kawasan.
Peta Bahodopi di kantor kecamatan masih menampilkan kondisi 2009. Lembaran kanvas yang mulai kusam itu hanya menandai beberapa kampung kecil dengan lingkaran, dihubungkan garis putus-putus yang mewakili jalan.
Tidak ada simbol pelabuhan, bandara, atau smelter di peta tersebut. Padahal dari jendela kantor yang sama, deretan pabrik peleburan berdiri hampir sejajar, memperdengarkan gemuruh mesin yang tak berhenti siang maupun malam.
Jalan yang di peta hanya berupa garis putus-putus kini beraspal mulus. Truk-truk pengangkut material dan motor pekerja yang berganti shift melintas setiap hari. Petugas kecamatan yang menunjuk peta lalu mengarah ke jendela tahu betul dokumen di dinding kantornya sudah menjadi catatan sejarah.
Klaster stainless steel mengolah bijih nikel menjadi NPI hingga produk akhir berupa slab, HRC, dan CRC. Klaster ini menjadi salah satu basis produksi nikel dan baja nirkarat terbesar dalam satu kawasan.
Klaster carbon steel memproduksi baja karbon untuk kebutuhan sektor konstruksi dan perkakas, baik pasar nasional maupun global. Klaster ketiga mengolah bahan baku pendukung ekosistem kendaraan listrik, termasuk elemen katoda dan anoda untuk baterai litium-ion.
Kawasan IMIP juga ditopang industri penunjang seperti PLTU dan PLTS, pabrik bahan kimia (silikon, mangan, kapur, kokas), serta fasilitas pelabuhan dan bandara khusus.
Perputaran uang ratusan miliar rupiah per bulan menciptakan kebutuhan harian yang tidak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian. Riset IMIP mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi: kios Pertamini 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan non-bangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.
"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang," ucap Head of Media Department PT IMIP Dedy Kurniawan dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/10/2026).
"Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp 300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas," sambungnya.
Dampak industri nikel mengangkat posisi Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau dan sebagian besar provinsi lain. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulteng Muhamad Irfan Sukarna menyebut ekonomi daerah itu tumbuh 9,43% (YoY) pada triwulan IV 2025, meningkat dari 7,79% (YoY) pada triwulan sebelumnya.
"Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah," tulis Irfan dalam laporan keuangan Provinsi Sulteng edisi Februari 2026.
Bagi pelaku usaha di sekitar kawasan, pertumbuhan itu berarti permintaan yang lebih besar untuk hunian, makanan, transportasi, dan jasa harian. Bagi pemegang saham dan mitra industri, tiga klaster produksi IMIP menjadi penopang rantai pasok nikel nasional, dari tambang hingga produk jadi.