MANADO — Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 bukan sekadar pameran buku dan diskusi. Penyelenggara menyiapkan ruang agar cerita, tradisi, dan sejarah masyarakat Sulut keluar dari ruang-ruang yang selama ini terbatas, lalu diolah menjadi karya yang bisa dibaca lebih luas.
Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara Standius Bara Prima menyebut kekayaan tradisi dan sejarah Sulut berisiko berhenti sebagai cerita lisan jika tidak segera dituliskan. PPLSU menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara untuk menjembatani persoalan itu.
Bara menilai banyak cerita lokal tidak pernah sampai ke pembaca karena hanya diwariskan dari mulut ke mulut. Festival Literasi Sulut 2026 disiapkan sebagai wadah mengolah cerita tersebut menjadi karya dan pengetahuan.
"Warisan budaya, tradisi dan sejarah yang selanjutnya melahirkan banyak cerita itu sering kali hanya berhenti sebagai tradisi lisan," kata Bara.
Dari situ, generasi berikutnya diharapkan tidak cuma mewarisi tradisi. Mereka didorong merawat, mengembangkan, dan menciptakan karya baru dari kekayaan budaya Sulawesi Utara.
Hari pertama festival menerjemahkan gagasan itu lewat Bincang Buku "Jalur Rempah Nusantara". Penulis lokal Ersyad Mamonto tampil bersama Wien Muldian membahas posisi Binadou—Bintauna, Bolangitang, dan Kaidipang—dalam jaringan pelayaran dan perdagangan masa lalu.
Bagi peserta muda, sejarah tidak lagi tampil sebagai rangkaian tanggal. Wilayah Sulawesi Utara dibahas sebagai bagian dari jaringan perdagangan Nusantara yang pernah hidup.
Sekretaris PPLSU Faradila Bachmid menyebut keberadaan penulis lokal sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem literasi daerah. Festival memberi ruang bagi mereka untuk tampil di hadapan pembaca.
Suasana festival tidak melulu diskusi serius. Kehadiran Dee Lestari membawa literasi ke panggung seni lewat pertunjukan musik, termasuk mengajak Standius Bara Prima bernyanyi bersama dalam lagu "Malaikat Juga Tahu".
Momen itu memperlihatkan wajah lain literasi: membaca, menulis, musik, seni, dan kreativitas bisa bertemu dalam satu ruang. Buku tidak berhenti di rak, tapi bergerak ke panggung.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Roldy Azkarya Apolti mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam festival. Menurut Roldy, gerakan literasi tidak hanya bergantung pada pemerintah.
Masyarakat perlu menjadi penggerak, sementara pemerintah memberikan dukungan sesuai kemampuan yang tersedia. Pandangan itu sejalan dengan gagasan yang dibawa Bara.
Jauh sebelum festival berlangsung, Bara mendorong PPLSU agar tidak sekadar menjadi simbol, tetapi agen yang menghadirkan gerakan dan karya nyata. Ia juga menekankan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi dan maraknya hoaks.
Festival Literasi Sulut 2026 karena itu bisa dibaca lebih luas dari agenda tiga hari. Sejarah Jalur Rempah bertemu generasi digital, penulis lokal bertemu pembaca, tradisi bertemu kreativitas, dan buku bertemu musik.
Dari Sulawesi Utara, cerita-cerita lokal itu sedang dicoba untuk tidak hanya disimpan sebagai kenangan. Tetapi ditulis, dibaca, dikembangkan, dan suatu hari mungkin dibaca oleh dunia.