SULAWESI UTARA — Sepuluh mahasiswa dari Indonesia dan Jepang mengembangkan dua proyek ekonomi sirkular yang mengubah limbah jaring ikan di Tanimbar dan sampah plastik bernilai rendah menjadi produk bernilai jual. Kedua gagasan itu digarap lewat Building Entrepreneurial Mindset for Sustainable Technology and Society (BESTS) Program 2026, kolaborasi Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo. Program ini menyatukan persoalan lingkungan dengan peluang usaha berkelanjutan, dengan INPEX Masela Ltd. sebagai salah satu perwakilan industri yang terlibat.
Proyek pertama bertajuk A Circular Economy Business for Fishing-Net Waste in Tanimbar, dikembangkan Chintya Ramadhani, Keyzia Ariola Putri, Stivan Delon Sahertian, Tsukui Shun, dan Mardo Malawau. Tim ini mengeksplorasi pemanfaatan kembali limbah jaring ikan melalui proses daur ulang, dengan target mendukung pengembangan jaring ikan yang lebih ramah lingkungan.
Proyek kedua, Eco-Fuel, digarap Harsen Ramadhan, Luthfi Ahmad, Nona Brillyanti, Koki Nakazaki, dan Hiroki Nozaki. Mereka mengolah limbah plastik bernilai ekonomi rendah lewat proses pirolisis menjadi bahan bakar cair alternatif.
Gagasan Eco-Fuel diarahkan untuk menjawab dua masalah sekaligus: tingginya biaya bahan bakar di sektor pertanian dan keterbatasan penyerapan limbah plastik dalam sistem pengelolaan sampah. Pirolisis dipilih karena mampu mengubah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar cair yang bisa dipakai kembali.
Pendekatan itu menempatkan sampah plastik bukan sebagai beban akhir, melainkan bahan baku. Bagi pelaku usaha tani, hasil olahan ini berpotensi menjadi alternatif pasokan energi di tengah tekanan biaya operasional.
Di Tanimbar, limbah jaring ikan menjadi fokus proyek Chintya Ramadhani dan tim. Jaring bekas yang selama ini menumpuk dieksplorasi untuk diolah kembali melalui proses daur ulang, dengan sasaran menghasilkan jaring ikan yang lebih ramah lingkungan.
Pendekatan ekonomi sirkular semacam ini menyasar dua sisi sekaligus: mengurangi timbunan limbah di wilayah pesisir dan membuka peluang usaha dari bahan yang sebelumnya dianggap tak bernilai.
Kedua proyek dikembangkan melalui BESTS Program 2026, hasil kolaborasi Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo, Jepang. Program tersebut memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan dan merancang solusi melalui pembelajaran lintas negara serta disiplin ilmu.
Perwakilan industri, termasuk INPEX Masela Ltd., dilibatkan dalam program ini. Kehadiran mitra industri membuka jalur bagi mahasiswa untuk menguji gagasan mereka terhadap kebutuhan nyata di lapangan, bukan sekadar latihan akademik.
"BESTS memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk keluar dari ruang kelas dan melihat secara langsung bagaimana isu sustainability hadir dalam kehidupan masyarakat maupun dunia industri," kata Dekan Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University, Farid Triawan.
Bagi pelaku usaha di sektor perikanan dan pengelolaan sampah, dua proyek ini menunjukkan bahwa limbah jaring dan plastik bernilai rendah bisa masuk rantai nilai ekonomi bila ada teknologi pengolahan yang tepat. Model bisnis sirkular seperti ini juga sejalan dengan tekanan global terhadap industri agar mengurangi jejak lingkungan.
Bagi investor dan mitra industri, keterlibatan INPEX Masela Ltd. menandakan minat dunia usaha terhadap solusi energi dan daur ulang berbasis teknologi. Proyek mahasiswa semacam Eco-Fuel dan daur ulang jaring ikan Tanimbar berpotensi menjadi pintu masuk bagi kemitraan riset maupun pilot project di wilayah operasi perusahaan.
Yang masih perlu diuji adalah skala. Proyek berbasis kampus biasanya berhenti di tahap prototipe tanpa dukungan pendanaan dan mitra produksi. Kehadiran perwakilan industri dalam program ini menjadi sinyal awal bahwa jalur komersialisasi bisa dibuka, meski timeline dan bentuk kerja samanya belum dipastikan.