Kadin: Pariwisata RI Punya Aset Kelas Dunia, Kini Soal Konversinya

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 12 September 2026 | 19:16:31 WIB
James Riady menyampaikan paparan dalam KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

SULAWESI UTARA — James Riady menyampaikan penilaian itu dalam KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026). Menurutnya, Indonesia tidak perlu menciptakan daya tarik baru untuk menarik wisatawan.

Pantai, laut, lokasi menyelam, ombak untuk berselancar, gunung berapi, hutan, hingga kekayaan budaya dan kuliner sudah tersedia. Semua aset itu tinggal dikemas menjadi aktivitas ekonomi yang menjanjikan.

Aset Mentah Pariwisata yang Sulit Ditandingi

Dalam paparannya, James menyebut kekayaan alam Indonesia sebagai modal yang jarang dimiliki negara lain. Ia mencontohkan spot diving dan surfing yang diakui dunia, ditambah ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

"Indonesia memiliki spot diving dan surfing terbaik di dunia, ribuan pulau, serta keragaman budaya yang luar biasa. Dari segi aset mentah pariwisata, sangat sedikit negara yang mampu menandingi kita," kata James.

Keragaman budaya dan kuliner melengkapi daya tarik itu. Kombinasi ini membuat Indonesia punya bahan baku lengkap untuk membangun destinasi kelas dunia tanpa harus membangun atraksi buatan dari nol.

Dari Keindahan Alam ke Aksesibilitas, Lalu ke Pembelanjaan

James mempertanyakan bagaimana potensi tersebut dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi nyata. Ia menyusun alur yang menurutnya jadi kunci: keindahan alam harus berubah menjadi aksesibilitas, aksesibilitas menjadi pengalaman, pengalaman menjadi pembelanjaan, pembelanjaan menjadi investasi, dan investasi menjadi kemakmuran.

"Bagaimana kita mengkonversi keindahan alam menjadi aksesibilitas? Aksesibilitas menjadi pengalaman? Pengalaman menjadi pembelanjaan? Pembelanjaan menjadi investasi? Dan investasi menjadi kemakmuran? Bagi saya, itulah pertanyaan utamanya," ujarnya.

Tanpa dukungan aksesibilitas, wisatawan sulit terdorong mengeluarkan uang lebih banyak. Dampaknya, investasi di sektor pariwisata juga ikut tersendat.

Ekosistem Pendukung Jadi Pembeda dengan Negara Lain

James mengakui sejumlah negara lain lebih efektif membangun ekosistem pariwisata meski kekayaan alamnya tidak sebesar Indonesia. Ekosistem itu mencakup penerbangan, hotel, transportasi publik, restoran, ritel, penyelenggaraan acara, konektivitas, hingga promosi digital.

"Harus diakui banyak negara lain yang jauh lebih efektif dalam membangun ekosistem pendukung di sekitar aset tersebut, mulai dari industri penerbangan, perhotelan, pemasaran, ritel, transportasi publik, penyelenggaraan acara, restoran, kemudahan perjalanan, kebersihan, konektivitas, promosi digital, hingga eksekusi yang konsisten," bebernya.

Kebersihan dan kemudahan perjalanan masuk dalam daftar yang ia soroti. Keduanya kerap menjadi keluhan wisatawan saat berkunjung ke destinasi lokal.

Wisatawan Malaysia dan Peran TikTok ke Jakarta

James juga menyoroti tren wisatawan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, yang makin banyak datang ke Jakarta untuk wisata perkotaan. Aktivitas mereka mulai dari berbelanja, berburu kuliner, menikmati kawasan Blok M, hingga menjajal Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung.

Yang menarik, tren itu sebagian besar tidak digerakkan kampanye pariwisata konvensional. Media sosial seperti TikTok dan Instagram berperan besar mengenalkan pengalaman wisata Jakarta.

"Sebagian besar dari tren ini tidak digerakkan oleh kampanye pariwisata tradisional, melainkan oleh media sosial seperti TikTok dan Instagram. Masyarakat menemukan sesuatu yang menarik, membagikannya, dan seketika ribuan orang ingin merasakan pengalaman yang sama," ujar James.

Dampak Ekonomi yang Cepat Terasa

Menurut James, pariwisata punya keunggulan karena dampak ekonominya lebih cepat dirasakan masyarakat. Aktivitas wisata menggerakkan perhotelan, restoran, penerbangan, transportasi, ritel, kuliner, hingga UMKM.

Rantai itu membuat sektor pariwisata berpotensi menjadi mesin ekonomi yang menyentuh lapisan bawah, bukan hanya pelaku usaha besar. Syaratnya, konversi dari aset menjadi pengalaman dan pembelanjaan berjalan konsisten.

Reporter: Ragil
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top